Rabu, 02 Februari 2011

Sejarah Kabupaten Tojo Una Una (TOUNA) Prov. Sulawesi Tengah

Berdasarkan cerita rakyat yang dikutip dari buku sejarah Tojo Una-Una karangan Drs. Hasan, M.Hum, bahwa Tojo berasal dari kata “Matojo” yang berarti kuat, dalam versi ini orang berdasar pada argumentasi awal sejarah terbentuknya Tojo, bermula dari penjemputan bakal raja Pilewiti oleh orang Manuru “Talamoa” dari sausu menuju Tojo.


Kerajaan Tojo
Berdasarkan cerita rakyat yang dikutip dari buku sejarah Tojo Una-Una karangan Drs. Hasan, M.Hum, bahwa Tojo berasal dari kata “Matojo” yang berarti kuat, dalam versi ini orang berdasar pada argumentasi awal sejarah terbentuknya Tojo, bermula dari penjemputan bakal raja Pilewiti oleh orang Manuru “Talamoa” dari sausu menuju Tojo. Dikisahkan dalam perjalanan dari Bambalowo sekitar tahun 1770 bersama pengawalnya 40 orang laki-laki menuju Tojo dengan menggunakan perahu Sampan Batang. Ringkas cerita di dalam perjalanan terjadi dialog dan tanya jawab antara Talamoa dengan Pilewiti yang menanyakan semua sungai yang dilewati dari Sausu sampai dengan Tanjung Pati-Pati yang pada akhirnya Pilewiti menunjuk sungai Tojo sebagai tempat untuk didiami, karena menurut beliau tempat tersebut (Tojo) adalah yang terbaik dari semua yang di lewatinya dari Sausu hingga Pati-Pati sehingga Tojo ditetapkan sebagai pusat kerajaan. Dari cerita singkat inilah menggambarkan kepada kita semua bahwa sesungguhnya wilayah kekuasaan kerajaan Tojo mulai dari Pati-Pati sampai dengan Pandiri (Korontomasa). Dipilihnya desa Tojo sebagai pusat kerajaan Tojo memiliki arti filosofis yang sangat dalam dengan kata Tojo atau Matojo (dalam bahasa bugis kuat) yaitu ada kekuatan yang tersimpan di kalangan masyarakat Tojo terutama dalam keberanian dalam menghadapi segala tantangan termasuk keuletan dalam mengarungi lautan dan mencari pimpinannya (Raja). Dari cerita inilah awal nama Tojo dikenal dan menjadi pusat kerajaan.

Kerajaan Togean
Kerajaan Togean adalah suatu kerajaan yang berdaulat dan otonom serta mempunyai kekuasaan yang besar dan kuat sebagai tanda kebesaran kerajaan. Adanya kedudukan raja dan kebendaan (benda pusaka kerajaan) menjadi sumber dari kerajaan ini, hal ini terlihat dari bendera kuning berukuran panjang 3 M dan lebar 1,5 M dan mempunyai lambang sebagai mahkota yaitu gunung sebagai simbol pertahanan kerajaan dan rumpun bambu kuning.
Raja pertama kerajaan Togean bernama Sari Buah yang memerintah sejak tahun 1762 – 1791. kerajaan Togean berdiri tahun 1762 dengan ibukota di Benteng, raja di kerajaan Togean digelar dengan nama Kolongian. Pada masa raja ketujuh yang bernama Zakariah 1896-1899 memerintah datang para kompeni Belanda untuk melakukan persahabatan dan kerja sama, namun di balik itu raja Zakariah dipaksa untuk menandatangani pernyataan tunduk dan takluk terhadap kolonial dan bersedia pusat kerajaan Togean di pindahkan di wilayah Una-Una.

Dengan perpindahan pusat kerajaan tersebut maka raja Zakariah digantikan oleh Muhammad Marudjeng Dg. Materru sebagai raja pertama di kerajaan Una-Una (1899 – 1926), kemudian Muhammad Marudjeng Dg. Materru digantikan oleh Lapalege Laborahima dan akhirnya raja terakhir di Kerajaan Una-Una adalah Sainudin Lasahido (1946-1950). Pada tahun 1951 kerajaan Una-Una di lebur menjadi kepala Swapraja dengan demikian maka sistim kerajaan berakhir diwilayah Una-Una.

Dengan berakhirnya masa raja-raja baik di kerajaan Tojo dan kerajaan Una-Una dibentuklah kewedanaan Tojo Una-Una yang merupakan bekas wilayah swapraja Tojo yang berkedudukan di Ampana dan swapraja Una-Una yang berkedudukan di Una-Una, dengan instruksi Bupati KDH Poso No. 1 tahun 1960 tanggal 9 Februari 1960 untuk mempersiapkan kewedanaan Tojo Una-Una.

Padang Fujiti

1 komentar:

  1. Perlu pendalaman lagi mengenai sejarah tojo una2 dan juga mungkin bisa lebih dirinci sbb begitu banyak hal2 yg masih belum terungkap dalam unsur sejarah dan budayanya,mudah2an para tetua dan sejarahwan kita bisa mengambil andil agar sejarah tidak tertutup oleh modernisasi, .. mudah2an...

    BalasHapus

About